Jenis-jenis kata dalam
bahasa indonesia
.
A . Kata
Benda atau Nomina
Kata benda
adalah nama dari semua benda dan segala yang dibendakan.
Kata benda
menurut wujudnya, dibagi atas :
1.
Kata benda
konkret
Kata benda
konkret adalah nama dari benda-benda yang dapat ditangkap panca indera, dibagi
alas:
a.
Nama diri
b.
Nama zat dan
lain sebagainya.
2.
Kata benda
abstrak
Kata benda
abstrak adalah nama-nama benda yang tidak dapat ditangkap dengan panca indera.
Untuk
menentukan apakah suatu kata masuk dalam kategori kata benda atau tidak, kita
menggunakan dua prosedur:
1.
Melihat dari
segi bentuk sebagai prosedur pencalonan
2.
Melihat dari
segi kelompok kata ( frasa), sebagai prosedur penentuan
a)
BENTUK
Segala kata
yang mengandung morfem terikat ( imbuhan ) : ke-an, pe-an, ke-, dicalonkan
sebagai kata benda.
Contoh: perumahan,
kecantikan, pelari, kehendak dan lain-lain.
Tetapi di
samping itu ada sejumlah besar kata yang tidak dapat ditentukan masuk kata
benda berdasarkan bentuknya, walaupun diketahui bahwa itu adalah kata benda.
Contoh: meja,
kursi, pohon, dan lain-lain
b)
KELOMPOK
KATA
Kedua macam
kata benda itu (baik yang berimbuhan maupun yang tidak berimbuhan) dapat mengandung
suatu ciri struktural yang sama yaitu dapat diperluas dengan yang + Kata
Sifat
Contoh:
perumahan yang baru
pelari yang
cepat
kehendak
yang baik
meja yang
bagus
pohon yang
tua
c)
TRANSPOSISI
Suatu kata
yang asalnya dari suatu jenis kata, dapat dipindahkan jenisnya ke jenis lain.
Pemindahan itu terjadi karena menambahkan imbuhan atau partikel. Kata ajar,
sebenarnya kata kerja, jika ditambahkan afiks pe-, maka dapat ditransposisikan
menjadi kata benda: pelajar.
Sebaliknya
ada kata benda yang dapat ditransposisikan menjadi kata kerja, misalnya kopi
menjadi mengopi.
d)
SUB-GOLONGAN
KATA BENDA
Karena kata
ganti adalah kata yang menduduki tempat kata benda dalam hubungannya atau
posisi tertentu, serta strukturnya sama dengan kata benda, maka kata ganti
dimasukan dalam jenis kata benda dan diperlakukan sebagai sub-golongan dari
kata benda.
Melalui
substitusi, kata ganti menduduki segala macam fungsi yang dapat diduduki oleh
kata benda.
Contoh: Fitra
pergi ke kampus
Ia pergi ke kampus
Dosen
mengajar Fitra
Dosen mengajarnya
B.
Kata Kerja
atau Verba
Kata kerja
adalah semua kata yang menyatakan perbuatan atau perilaku.
Berdasarkan
pelengkapnya, kata kerja terbagi atas :
1.
Kata kerja
transitif: kata kerja yang menghendaki adanya suatu pelengkap.
Contoh: memukul,
menangkap, melihat dan sebagainya
2.
Kata kerja
intransitif: kata kerja yang tidak memerlukan pelengkap.
Contoh: menangis,
meninggal, berjalan dan sebagainya
Untuk
menentukan apakah suatu kata masuk kata benda atau tidak, dengan cara mengikuti
kedua prosedur di atas.
a)
BENTUK
Segala kata
yang berimbuhan: me-, ber-, -kan, di-, -i dapat dicalonkan menjadi kata
kerja.
b)
KELOMPOK
KATA
Segala macam
kata tersebut di atas dalam segi kelompok kata mempunyai kesamaan struktur
yaitu dapat diperluas dengan kelompok kata dengan + Kata Sifat.
Contoh:
Ia berbicara
dengan keras
Anak itu
menari dengan gemulai
c)
TRANSPOSISI
Kata kerja
dapat dipindah jenisnya ke jenis kata lain dengan pertolongan morfem terikat,
misalnya menari menjadi penari, tarian; membaca menjadi pembaca,
bacaan, dan lain-lain. Begitu pula sebaliknya, kata benda atau kata sifat
dapat ditransposisikan menjadi kata kerja, misalnya pendek menjadi memendekkan,
turun menjadi menurunkan dan sebagainya.
C.
Kata Sifat
atau Adjektifa
Menurut
Aristoteles, kata sifat adalah kata yang menyatakan sifat atau hal keadaan sari
sesuatu benda, misal tinggi, rendah, lama, baru dan sebagainya.
Untuk
menentukan apakah suatu kata masuk kata benda atau tidak, dengan cara mengikuti
kedua prosedur di atas.
a)
BENTUK
Dari segi
bentuk segala kata sifat dalam bahasa Indonesia bisa mengambil bentuk: se +
reduplikasi kata dasar + nya
Contoh:
se-tinggi-tinggi-nya
se-cepat-cepat-nya
se-baik-baik-nya
b)
KELOMPOK
KATA
Dari segi
kelompok kata, kata-kata sifat dapat diterangkan olek kata-kata: paling,
lebih, sekali.
Contoh: paling
besar, lebih besar, besar sekali
paling cepat, lebih
cepat, cepat sekali
paling baik, lebih
baik, baik sekali
c)
TRANSPOSISI
Semua kata
yang tergolong kata sifat dapat berpindah jenis kata dengan bantuan
morfem-morfem terikat: pe-, ke-an, me-, -kan dan sebagainya.
Contoh: pembesar,
membesarkan, perbesar, pembesaran, kebesaran dan lain-lain
d)
SUB-GOLONGAN
Kata-kata
bilangan berdasarkan sifatnya dapat digolongkan dalam kata sifat sebagai
sub-golongan karena merupakan kelompok dengan ciri-ciri tersendiri tapi karena
secara substitusional dapat menduduki tugas-tugas dari kata sifat.
D.
Kata Ganti
atau Pronomina
Yang
termasuk jenis kata ini adalah segala kata yang dipakai untuk menggantikan kata
benda atau yang dibendakan.
Kata ganti
menurut sifat dan fungsinya dapat dibedakan atas:
1.
Kata Ganti
Orang (Pronomina Personalia)
a.
Orang I
1)
Tunggal : aku
untuk
menyatakan kerendahan diri: hamba, sahaya, patik, abdi
untuk
mengungkapkan sesuatu suasana yang agung: kami (pluralis majestatis)
2)
Jamak :
kami, kita
b.
Orang II
1)
Tunggal : engkau,
kamu
paduka,
tuan, Yang Mulia, saudara, ibu, bapak dan lain-lain
2)
Jamak : kamu
c.
Orang III
1)
Tunggal : dia,
beliau
Untuk orang
yang sudah meninggal: mendiang, almarhum atau almarhumah
2)
Jamak : mereka
2.
Kata Ganti
Empunya (Pronomina Possessiva)
Adalah
segala kata yang menggantikan kata ganti orang dalam kedudukan sebagai pemilik:
-ku, -mu, -nya, kami, kamu, mereka.
Dalam
fungsinya sebagai pemilik, kata-kata ini mengambil bentuk ringkas dan dirangkaikan
saja di belakang kata yang diterangkan (disebut sebagai bentuk enklitis).
Contoh:
pensilku = pensil aku
pensilmu =
pensil kamu
apabila
bentuk ringkas itu dirangkaikan di depan sebuah kata, disebut proklitis.
Contoh: kupinjam,
kaupinjam
3.
Kata Ganti
Penunjuk (Pronomina Demonstrativa)
Adalah kata
yang menunjuk di mana terdapat sesuatu benda. Ada tiga macam kata ganti
penunjuk:
a.
Menunjuk
sesuatu di tempat pembicara
: ini
b.
Menunjuk
sesuatu di tempat lawan bicara
: itu
c.
Menunjuk
sesuatu di tempat orang
ketiga :
di sana
4.
Kata Ganti
Penghubung (Pronomina Relativa)
Adalah kata
yang menghubungkan anak kalimat dengan suatu kata benda yang terdapat dalam
induk kalimat. Jadi fungsi kata penghubung adalah:
a.
Menggantikan
kata benda yang terdapat dalam induk kalimat
b.
Menghubungkan
anak kalimat dengan induk kalimat.
5.
Kata Ganti
Penanya (Pronomina Innterrogativa)
Adalah kata
yang menanyakan tentang benda, orang atau suatu keadaan. Kata ganti penanya
dalam bahasa Indonesia yaitu:
a.
Apa
: untuk menanyakan benda
b.
Siapa
: (si + apa) untuk menanyakan orang
c.
Mana
: untuk menanyakan pilihan seseorang atau
beberapa hal barang.
Kata ganti
penanya tersebut dapat dipakai lagi dengan bermacam-macam penggabungan dengan
kata depan
Contoh:
dengan
apa
dengan
siapa
dari mana
untuk
apa
untuk siapa
ke mana
buat
apa
kepada
siapa
dan lain-lain
Selain dari
kata-kata itu ada pula kata ganti penanya yang lain yang bukan menanyakan orang
atau benda tetapi menanyakan keadaan, perihal dan sebagainya:
mengapa
bilamana
betapa
berapa
kenapa
bagaimana
6.
Kata Ganti
Tak Tentu (Pronomina Indeterminativa)
Adalah kata
yang menggantikan atau menunjukkan benda atau orang dalam keadaan yang tidak
tentu atau umum.
Contoh:
masing-masing
siapa-siapa
seseorang
sesuatu
barang
para
salah (salah
satu…)
E. Kata Keterangan atau Adverbia
Kata keterangan oleh tata bahasa tradisional ditempatkan sebagai satu jenis
kata.kekurangan atau kelemahan dari dasar-dasar yang digunakan untuk menentukan
jenis kata. Kata keterangan tidak lain adalah suatu kata atau kelompok kata
yang menduduki suatu fungsi tertentu, yaitu fungsi untuk menerangkan kata
kerja, kata sifat, kata keterangan yang masing-masingnya menduduki pula suatu
jabatan atau fungsi dalam kalimat.
Tata bahasa tradisional, akan tampak bahwa dalam beberapa hal akan timbul
kekacauan atau kekaburan, sebab ada kata yang sudah kita golongkan
sebagai kata keterangan nanti akan dimasukkan lagi dalam kata depan, atau
bagian dari kata keterangan itu sebenarnya adalah kata sifat dan
sebagainya.kata keterangan secara tradisonal dapat dibagi-bagi lagi atas
beberapa macam berdasarkan artinya atau lebih baik berdasarkan fungsinya dalam
kalimat.
1.
KATA
KETERANGAN KUALITATIF
Adalah kata keterangan yang menerangkan atau menjelaskan suasana atau
situasi dari suatu perbuatan.
Biasanya kata keterangan ini dinyatakan dengan mempergunakan kata depan dengan
+ kata sifat.jadi sudah tampak di sini bahwa kata keterangan itu bukan
merupakan suatu jenis kata tetapi adalah suatu fungsi atau jabatan dari suatu
kata atau kelompok kata dalam sebuah kalimat.
Contoh: ia berjalan perlahan-lahan
Ia menyanyi dengan nyaring
2.
KATA
KETERANGAN WAKTU
Adalah kata
keterangan yang menunjukkan atau menjelaskan berlangsungnya suatu peristiwa
dalam suatu biadang waktu:sekarang,nanti,kemarin,kemudian, sesudah itu,
lusa, sebelum, minggu depan, bulan depan, dan lain-lain.
Kata-kata
seperti :
Sudah,
setelah, sekarang, nanti, kemarin, kemudian, minggu depan dan lain-lain
3.
KATA
KETERANGAN TEMPAT
Segala macam
kata ini memberi penjelasan atas berlangsungnya suatu peristiwa atau perbuatan
dalam suatu ruang, seperti:di sini, di situ, di sana, ke mari,ke
sana, di rumah, di bandung, dari Jakarta dan sebagainya.
Dari
contoh-contoh di atas yang secara konvensional dianggap kata keterangan tempat,
jelas tampak bahwa golongan kata ini pun bukan suatu jenis kata, tetapi
merupakan suatu kelompok kata yang menduduki suatu fungsi tertentu dalam
kalimat. Keterangan tempat yang
dimaksudkan dalam tata bahasa-tata bahasa lama terdiri dari dua bagian yaitu
kata depan (di, ke, dalam ) dan kata benda atau kata ganti petunjuk.
4.
KATA
KETERANGAN KECARAAN
Adalah kata-kata yang menjelaskan suatu peristiwa karena tanggapan si
pembicara atas berlangsungnya peristiwa tersebut. Dalam hal ini subjektivitas
lebih ditonjolkan. Keterangan ini menunjukkan sikap pembicara, bagaimana cara
ia melihat persoalan tersebut. Pertanyaan sikap pembicara atau tanggapan
pembicara atas berlangsungnya peristiwa tersebut dapat berupa:
a. Kepastian : memang, niscaya, pasti, sungguh,
tentu, tidak, bukanya, bukan.
b. Pengakuan : ya, benar, betul, malahan, sebenarnya.
c. Kesangsian : agaknya, barangkali, entah, mungkin, rasanya.
d. Keinginan : moga-moga, mudah-mudahan.
e. Ajakan : baik, mari,
hendaknya, kiranya.
f.
Larangan
: jangan.
g. Keheranan : masakan, mustahil, mana boleh.
5.
KATA
KETERANGAN ASPEK
Keterangan
aspek menjelaskan berlangsungnya suatu peristiwa secara objektif, bahwa suatu
peristiwa terjadi dengan sendirinya tanpa suatu pengaruh atau pandangan dari
pembicara. Keterangan aspek dapat dibagi-bagi lagi atas bermacam-macam:
a. Aspek
inkoatif
: menunjukan suatu peristiwa pada proses permulaan
berlangsungnya : saya pun
berangkatlah.
b. Aspaek
duratif
: adalah keterangan aspek yang menunjukan bahwa suatu peristiwa tengah
berlangsung: sedang, sementara.
c. Aspek perfektif : adalah keterangan
aspek yang menyatakan bahwa suatu peristiwa telah mencapai titik
penyelesaiannya: sudah, telah.
d. Aspek momental : menyatakan suatu peristiwa terjadi
pada suatu saat yang pendek.
e. Aspek
repetitif
: menyatakan bahwa suatu perbuatan terjadi berulang-ulang.
f. Aspek frekuentatif : menunjukan bahwa suatu peristiwa sering
terjadi.
g. Aspek habituatif : menyatakan bahwa perbuatan itu
terjadi karena suatu kebiasaan.
6.
KATA
KETERANGAN DERAJAT
Adalah keterangan yang menjelaskan derajat berlangsungnya suatu peristiwa
atau jumlah dan banyaknya suatu tindakan dikerjakan: amat hampir, kira-kira,
sedikit, cukup, hanya, satu kali, dua kali, dan seterusnya.
7.
KATA
KETERANGAN ALAT
Adalah keterangan yang menjelaskan dengan alat manakah suatu prose situ
berlangsung. Keterangan semacam ini biasanya dinyatakan oleh kata dengan +
kata benda.
Contoh : ia memukul anjing itu dengan tongkat.
Anak itu menjolok buah dengan galah, dan sebagainya.
8.
KETERANGAN
KESERTAAN
Adalah keterangan yang menyatakan pengikut-sertaan seseorang dalan suatu
perbuataan atau tindakan:
Saya pergi ke pasar bersama ibu.
9.
KETERANGAN
SYARAT
Adalah
keterangan yang menerangkan terjadinya suatu proses di bawah syarat-syarat
tertentu yang harus dipenuhinya: jikalau, seandainya, jika, dan
sebagainya.
10. KETERANGAN
PERLAWANAN
Adalah keterangan yang membantah sesuatu peristiwa yang telah diperkatakan
terlebih dahulu. Keterangan ini biasanya didahului oleh kata-kata: meskipun,
sungguhpun, biarpun, biar, meski, jika.
11. KETERANGAN
SEBAB
Adalah keterangan yang memberi keterangan mengapa sesuatu peristiwa telah
berlangsung. Kata-kata yang menunjukkan keterangan sebab adalah: sebab,
karena, oleh karena, oleh sebab, oleh karena itu, oleh karenanya, dan
sebagainya.
12. KETERANGAN
AKIBAT
Adalah keterangan yang menjelaskan akibat yang terjadi karena suatu
peristiwa atau perbuatan. Akibat adalah hasil dari suatu perbuatan yang
tidak diharapkan atau yang tidak dengan sengaja dicapai, tetapi terjadi
dalam hubungan sebab-akibat. Keterangan ini biasanya didahului oleh
kata-kata : sehingga ,oeh karena itu, oleh sebab itu, dan lain
sebagainya.
13. KETERANGAN
TUJUAN
Adalah keterangan yang menerangkan hasil atau tujuan dari Sesuatu proses.
Tujuan itu pada hakekatnya adalah suatu akibat, tetapi akibat yang sengaja
dicapai atau memeng dikehendaki demikian. Kata-kata yang menyatakan keterangan
tujuan adalah: supaya, agar, agar supaya, hendak, untuk, guna, buat.
14. KETERANGAN
PERBANDINGAN
Adalah
keterangan yang menjelaskan sesuatu perbuatan dengan mengadakan perbandingan
keadaan suatu proses denagn proses yang lain, suatu keadaan denagn keadaan yang
lain: kata-kata yang di pakai untuk menyatakan perbandingan itu adalah: sebagai,
seperti, seakan-akan, laksana, umpama, bagaimana.
15. KETERANGAN PERWATASAN
Adalah keterangan yang memberi penjelasan dalam hal-hal mana saja suatu
proses berlangsung, dan yang mana tidak: kecuali, hanya.
F.
Kata Bilangan atau Numeralia
Kata bilangan adalah kata yang menyatakan jumlah benda atau jumlah kumpulan
atau urutan tempat dari nama-nama benda.
Menurut sifatnya kata bilangan dapat dibagi atas:
1. Kata bilangan utama (numeralia cardinalia):satu, dua, tiga, empat, seratus, seribu,dan sebagainya.
2. Kata bilangan tingkat (numeralia ordinalia):pertama, kedua, ketiga, kelima, kesepuluh, keseratus, dan sebagainya.
3. Kata bilangan tak tentu:beberapa,
segala, semua, tiap-tiap dan sebagainya
4. Kata bilangan kumpulan:kedua,
kesepuluh, dan sebagainya.
Penggunaan kata bilangan adalah sebagai berikut:
1. Angka
dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Di dalam tulisan lazim
digunakan angka arab atau angka romawi.
a.
Angka
digunakan untuk menyatakan:
b. Ukuran panjang, berat, luas, dan isi,
c.
Satuan
waktu,
d.
Nilai uang,
dan
e.
Kuantitas .
2. Angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau
kamar pada alamat.
Misalnya:
Jalan tanah
abang 1 No. 15 Hotel Indonesia, Kamar 169
3. Angka digunakan
juga untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci.
Misalnya:
Bab X,Pasal 5, halaman 252, Surah Yasin:9
4. Penulisan
lambang bilangan yang dengan huruf dilakukan sebagai berikut.
Bilangan utuh : dua ratus dua puluh dua (222)
Bilangan
pecahan: seperdelapan ( ), dua per
lima ( )
5. Penulisan
lambang bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara yang berikut.
Misalnya:
Paku buwono X; dalam kehidupan pada abad ke-20 ini; lihat bab //, Pasal 5;
dalam bab ke-2 buku itu; di tingkat kedua gedung itu; di tingkat ke-2 itu;
kantor di tingkat //.
6. Penulisan
lambang bilangan yang mendapat akhiran –an mengikuti cara yang berikut.
( lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E, ayat 5).
7. Lambang
bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata dituis dengan
huruf kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan,
seperti dalam perincian dan pemaparan.
Misalnya :
Amir menonton drama itu sampai tiga kali.
Ayah memesan tiga ratus ekor ayam.
8. Lambang
bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susuna kalimat
diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata
tidak terdapat pada awal kalimat.
Misalnya :
Lima belas orang tewas dalam kecelakaan itu.
Pak Darmo mengundang 250 orang tamu.
Bukan :
15 orang tewas
dalam kecelakaan itu.
Dua ratus lima puluh orang tamu diundang Pak Darmo
9. Angka
yang menunjukkan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagaian supaya lebih
mudah dibaca.
Misalnya :
Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 250 juta rupiah.
Penduduk indonesia berjumlah lebih dari 120 juta orang
10. Bilangan tidak
perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks kecuali didalam
dokumen resmi seperti akta dan kuitansi.
Misalnya :
Kantor kami mempunyai dua puluh orang pegawai.
Bukan :
Kantor kami mempunyai 20 (dua puluh) orang pegawai.
11. Jika bilangan
dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisanya harys tepat.
Misalnya :
Saya lampirkan tanda terima uang sebesar Rp.999,75 (sembilan ratus
sembilan puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus rupiah)
Kata bantu bilangan dalam menyebut berapa jumlahnya suatu barang,
dalam bahasa Indonesia tidak saja dipakai kata bilangan, tetapi selalu dipakai
suatu kata yang menerangkan sifat atau macam barang itu. Kata-kata semacam itu
disebut kata bantu bilangan.
G. Kata Sambung atau Conjunctio
Kata sambung adalah kata yang menghubungkan kata-kata. Bagian-bagian
kalimat atau menghubungkan kalimat-kalimat itu dapat berlangsung dengan
berbagai cara:
1. Menyatakan gabungan: dan, lagi pula, serta.
2. Menyatakan pertentangan: tetapi, akan tetapi, melainkan.
3. Menyatakan waktu: apabila, ketika, bila, bilamana, demi, sambil, sebelum,
sedang, sejak, selama, semenjak, sementara, seraya, setelah, sesudah, tatkala,
waktu.
4.
Menyatakan
tujuan: supaya, agar supaya dan lain-lain.
5. Menyatakan sebab: sebab, karena, karena itu, sebab itu.
6.
Menyatakan
akibat: sehingga, sampai.
7. Menyatakan syarat: jika, andaikan, asal, asalkan, jikalau, sekiranya,
seandainya.
8.
Menyatakan pilihan: atau……atau….., …… maupun, baik……baik……, entah…… entah……
9. Menyatakan bandingan: seperti, bagai, bagaikan, seakan-akan.
10. Menyatakan tingkat: semakin, …….semakin, kian…… kian…….,
bertanbah……bertambah ……..
11. Menyatakan
perlawanan: meskipun, biarpun, dan lain-lain.
12. Pengantar
kalimat: maka, adapun, akan. Dalam kesusastraan lama kita mengenal pula
kata-kata pengatar kalimat seperti: bahwasanya, sebermula, syahdan,
hatta, arkiran, kalakian, sekali peristiwa.
13. Menyatakan
penjelas: yakni, umpama, yaitu.
14. Sebagai
penetap sesuatu: bahwa.
Segala macam kata sambung yang menghubungkan atau menerangkan kalimat
secara jelas, disebut menerangkan secara eksplisit. Tetapi di samping itu sifat
hubungan itu dapat berlangsung tanpa memakai satu kata sambung pun. Maknanya
harus ditafsir atau diturunkan berdasarkan hubungan kalimat. Keteranganya yang
tidak mempergunakan alat-alat bahasa ini bersifat implisit, misalnya:
Ia datang, saya berangkat.
Dalam kalimat diatas secara implisit terkandung keterangan waktu.
Keterangan waktu yang tersembunyi itu secara eksplisit dapat dinyatakan
sebagai berikut:
Ketika ia datang, saya berangkat, atau
Ia datang, ketika saya berangkat.
Suatu hubungan yang dinyatakan secara implisit dapat ditafsirkan
bermacam-macam; tergantung dari pandangan tiap pendengar atau pembaca.
H.
Kata Depan
(Prepositio)
Kata depan
menurut definisi tradisional, adalah kata yang merangkaikan kata – kata atau
bagian kalimat.
Kata - kata
depan yang terpenting dalam bahasa Indonesia adalah :
1.
DI, KE, DARI
: Ketiga macam kata depan ini dipergunakan untuk merangkaikan kat – kata yang
menyatakan tempat atau sesuatu yang dianggap tempat:
Di Jakarta,
di rumah, ke rumah, dari sawah, dari sekolah, dan lain - lain.
2.
Bagi kata –
kata yang menyatakan orang, nama orang atau nama binatang, nama waktu atau
kiasan dipergunkan kata pada untuk menggantikan di, atau kata –
kata depan lain digabungkan dengan pada misanya: daripada, kepada.
Pada suatu
hari
pada bapak
Pada hari
sabtu
pada senin
Pada
kami
kepada teman – teman
3.
Selain dari
pada itu ada kata – kata depan yang lain, baik berupa gabungan maupun tunggal
seperti: di mana, di sini, di situ, akan,oleh, dalam, atas, demi, guna,
buat, berkat, terhadap, antara, tentang, hingga, dan lain – lain.
Di samping
itu ada beberapa kata kerja yang dipakai pula sebagai kata depan, yaitu : menurut,
menghadap, mendapatkan, melalui, menuju, menjelang, sampai.
Ada beberapa
kata depan, yang menduduki bermacam – macam fungsi yang istimewa. Oleh sebab
itu perlu kita perhatikan secara istimewa, antara lain:
a.
AKAN : Kata
Depan akandapat menduduki beberapa fungsi:
- Pengantar
objek: ia tidak tau akan hal
itu.
Ku lupa akan
semua kejadian itu.
- Untuk
menyatakan future: saya akan pergi ke Surabaya.
Kakek akan
tiba hari ini.
- Untuk
penguat atau penekan, dalam hal ini dapat berfungsi sebagi penentu: akan hal
itu perlu kita perundingkan kelak.
b.
DENGAN :
Kata Depan dengan dapat menduduki beberapa macam fungsi, misalnya:
- Untuk
menyatakan alat (instrumental):
Ia memukul
anjing dengan tongkat.
Adik makan
dengan sendok.
- Menyatakan
hubungan kesertaan (komitatif):
Ia kepasar dengan
ibunya.
- Membentuk
adverbial kualitatif:
Perkara itu
diselidiki dengan cermat.
- Dipakai
untuk menyatakan keterangan komparatif:
Adik sama
tinggi dengan Adi.
c.
ATAS : arti
dan fungsinya:
- Membentuk
keterangan tempat, dalam hal ini sama artinya dengan di atas.
Kami
menerima tanggung jawab itu di atas pundak kami.
-
Menghubungkan
kata benda atau kata kerja dengan keterangan:
Kami
mengucapkan terima kasih atas kerelaan saudara.
Kami
menyesal atas sekalian tindak tanduknya.
-
Dipakai di
depan beberapa kata dengan arti : dengan atau demi. Misalnya:
Atas
nama atas
kehendak atas
perintah
Atas desakan
atas kematian dan sebagainya
d. ANTARA :
arti dan fungsinya:
-
Sebagai
penunjuk arah :
Jarak antara
jogja dan solo.
-
Sebagai
penunjuk tempat: dalam hal ini sama artinya dengan di antara :
Antara murid
– murid itu mana yang terpandai?
-
Dapat pula
berarti kira – kira:
Antara lima
jam lalu ia meninggalkan tempat ini.
I. Kata
Sandang atau Articula
Kata sandang
itu tidak mengandung suatu arti tetapi mempunyai fungsi. Dalam bagian mengenai
kata ganti penghubung sudah dibicarkan pula tentang yang, yang
pada mulanya hanya mengandung fungi penentu.
Itulah
fungsi pertama dari kata – kata sandang.
Adapun
fungsi kata sangdang seluruhnya dapat disusun sebagai berikut:
a.
Menentukan kata benda
b.
Mensubstansifkan sutu kata :yang besar, yang
jangkung, dan lain – lain.
Kata – kata
sandang yang umum dalam bahasa Indonesia adalah: yang, itu, nya, si, sang,
hang, dang. Kata – kata sang, hang, dang banyak ditemui dalam
kesusastraan lama, sekarang kurang digunakan lagi, kecuali sang, yang
kadang – kadang digunakan untuk mengagungkan dan terkadang untuk menyatakan
ejekan atau ironi.
J. Kata Seru
atau Interjectio
Kata seru
dianggap sebagai kata paling tua dalam kehidupan bahasa. Umat manusia tidak
sekaligus mengenal sistim bahasa sebagai yang kita kenal sekarang. Dari aal
mula perkembangan umat manusia sedikit demi sedikit diciptakan sistim – sistim
bunyi untuk komunikasi antar anggota masyarakat. Dan bentuk yang paling tua
diciptakan untuk mengadakan hubungan atau komunikasi itu adalah kata seru.
Oleh semua
tatabahasa tradisional, kata seru diklasifikasikan sebagai suatu jenis kata.
Bila melihat wujud dan fungsinya, maka tidak dapat diterima ketetapan itu,
walaupun harus diakui dengan melihat saja bentuknya kita dapat tertipu
karenanya. Interjeksi sekaligus mengungkapkan semua perasaan dan maksud
seseorang. Berarti interjeksi itu sudah termasuk dalam bidang sintaksis. Atau
dengan kata lain apa yang dinamakan kata seru itu, bukanlah kata tetapi semacam
kalimat.
Bermacam –
macam interjeksi yang dikenal hingga sekarang adalah:
a.
Interjeksi asli: yah, wah, ah, hai,o, oh, cis, cih, nah, he dll.
b.
Interjeksi yang berasal dari kata – kata biasa : yang dimaksud dengan
interjeksi ini adalah kata – kata benda atau kata – kata lain yang digunakan
atau biasa digunakan kata seru: celaka, masa, kasihan, bangsat dan lain – lain.
c.
Interjeksi yang berasal dari ungkapan – ungkapan, baik dari ungkapan Indonesia
asli maupun dari ungkapan asing, misalnya: ya ampun, demi Allah, Insya Allah,
Alhamdulillahi robbilalaminn, astagfirullah.
K. Kata Tugas
Kata yang
oleh Tatabahasa Tradisional disebut kata depan dan kata sambung
(atau kata penghubung) dimasukkan dalam kata tugas.
1.
Bentuk
Dari segi
bentuk umumnya kata-kata tugas sukar sekali mengalami perubahan bentuk.
Kata-kata seperti dengan, telah, dan, tetapi, dan sebagainya tidak bias
mengalami perubahan. Tetapi di samping itu ada segolongan kata yang jumlahnya
sangat terbatas, walaupun termasuk kata tugas, dapat mengalami perubahan
bentuk, misalnya tidak, susah, dapat berubah menjadi menidakkan,
menyudahkan.
2.
Kelompok
kata
Dari segi
kelompok kata, kata-kata tugas hanya memiliki tugas untuk memperluas atau
mengadakan transformasi kalimat. Kata-kata tugas tidak bias menduduki
fungsi-fungsi pokok dalam sebuah kalimat, seperti subyek, predikat, obyek.
Jadi melihat
uraian di atas kita dapat membagi kata-kata tugas atas dua macam:
a.
Kata-kata
tugas yang monovalen (yang bernilai satu) yaitu semata-mata bertugas untuk
memperluas kalimat,misalnya dan, tetapi, sesudah, di, ke, dari, dan
sebagainya.
b.
Kata-kata
tugas yang ambivalen (bernilai dua) yaitu di samping berfungsi sebagai kata
tugas yang moovalen, dapat juga bertindak sebai jenis kata lain, baik dalam
membentuk suatu kalimat minim maupun dalam merubah bentuknya, misalnya sudah,
tidak, dan lain-lain.
Jadi, fungsi
kata tugas adalah merubah kalimat yang minim menjadi kalimat transformasi.
3.
Partikel kah,
tah, lah, pun
Bentuk-bentuk
kah, tah, lah, pun oleh hamper semua Tatabahasa Indonesia dimasukkan
dalam kategori akhiran. Kekeliruan itu terjadi karena pengaruh masalah ejaan,
yang oleh ejaan Suwandi dirangkaiakan dengan kata sebelumnya. Keempat bentuk
itu seharusnya adalah partikel penentu atau pengeras. Partike adalah semacam
kata tugas yang mempunyai bentuk khusus yaitu sangat ringkas atau kecil, dengan
mempunyai fungsi-fungsi tertentu.
Perbedaan
antara partikel dan sufiks (juga semua afiks) dapat dirumuskan sebagai berikut:
a.
Partikel
tidak memindahkan jenis kata (kelas kata) dari kata-kata yang diikutinya;
sebaliknya sufiks (juga semua afiks) memindahkan kelas kata dari kata yang
diikutinya. Misalnya:
Pergilah!
(pergi
tetap kata kerja)
Ayahlah yang
berhak! (ayah tetap kata benda)
b.
Kata-kata
yang diikuti oleh sebuah partikel bias bermacam-macam jenis katanya, dan tetap
mempertahankan jenis katanya; sebaliknya sufiks (juga semua afiks)
mengelompokkan bermacam-macam jenis kata itu menjadi satu jenis kata yang sama.
Siapakah
dia?
(tetap kata ganti tanya)
Di manakah
barang
itu?
(tetap kata tanya)
Besarkan api
itu!
(kata kerja dan kata sifat)
Lemparkan
tombak
itu!
(kata kerja dan kata kerja)
c.
Bidang gerak
partikel adalah sintaksis (termasuk frasa dan klausa); sebaliknya sufiks (juga
semua afiks) bergerak dalam bidang morfologi.
Fungsi dan
makna partikel-partikel tersebut di atas dapat diperinci sehingga sebagai
berikut:
a.
Partikel kah
Fungsi
partikel kah:
1)
Memberi
tekanan dalam pertanyaan; kata yang dihubugkan dengan kah itu
dipentingkan.
Contoh:
Sawah atau ladangkah yang digarapnya?
Bermalas-malas
atau berjalankah dia?
2)
Dapat
dipakai pula untuk menyatakan hal yang tak tentu; sebenarnya hal itu merupakan
pertanyaan juga, tetapi pertanyaan yang tidak langsung.
Contoh:
Datangkah atau tidakkah, kami tidak tahu.
Terserahlah
padamu; tinggalkah atau berangkat kami tidak ingin mempengaruhi saudara.
b.
Partikel tah
Fungsi
partikel tah ini sama dengan kah, tetapi lebih terbatas
pemakaiannya hanya pada kata tanya saja: apatah, manatah, siapatah.
Bentuk-betuk ini lebih sering dijumpai dalam Melayu Lama. Dewasa ini kurang
dipakai. Makna pertanyaan dengan mempergunakan partikel tah adalah meragukan
atau kurang tentu.
c.
Partikel lah
Fungsi
partikel lah adalah
1)
Mengeraskan
gatra perbuatan, baik dalam kalimat berita, kalimat perintah, maupun dalam
permintaan atau harapan, misalnya:
Bacalah
dengan nyaring!
Datanglah ke
sini pukul lima!
Mudah-mudahan
terhindarlah mereka dari bencana itu!
2)
Mengeraskan
suatu gatra keterangan, misalnya:
Tiadalah aku
mau diperlakukan seperti itu.
Apa pun yang
akan terjadi, pastilah aku akan datang ke sana.
3)
Menekankan
gatra pangkal; dalam hal ini biasanya ditambah dengan partikel yang, misalnya:
Kamulah yang
harus bertanggungjawab.
Engkaulah
yang harus menjadi tulang punggung keluarga.
d.
Partikel pun
Fungsi dan
arti partikel pun:
1)
Mengeraskan
atau member tekanan pada kata yang bersangkutan; dalam hal ini dapat diartikan
dengan juga:
Dia pun
mengetahui persoalan itu.
Kapal-kapal
yang besar pun dapat berlayar di sungai itu.
2)
Dalam
penguatan atau pengerasan dapat terkandung arti atau pengertian perlawanan:
Mengorbankan
nyawa sekalipun aku rela.
Betapa pun
ia berjuang mempertahankan hidupnya sia-sia belaka.
3)
Gabungan
antara pun + lah dapat mengandung aspek inkoatif:
Mereka pun
berjalanlah.
Hujan pun
turunlah dengan lebatnya.
Ia pun
duduklah di bawah pohon yang rindang itu.
L.
Kata
Berimbuhan
Dalam bahasa
Indonesia imbuhan merupakan unsur yang penting karena imbuhan dapat
mengakibatkan perubahan jenis kata, bentuk kata, dan makna kata.
Di bawah ini
terdapat beberapa penjelasan tentang imbuhan.
1.
Jenis afiks
menurut tempatnya :
a.
Awalan/perfiks
: meng, ber, ter, ke, peng, per, dan seterusnya
b.
Akhiran /
sufiks : -an, -kan, -i
c.
Sisipan/infiks
: -el, -em, -r
d.
Konfiks : ke-an,
per-an, peng-an, dan seterusnya
2.
Jenis afiks
menurut penggunaannya :
a.
Afiks
produktif : afiks yang memliki frekuensi pemakaian yang tinggi.
Contoh : se-,
meng-, ber-, peng-, per-, dan seterusnya
b.
Afiks ak
produktif : afiks yang frekuensi pemakaiannya tidak tinggi
Contoh : -em,
-el, -er, -wati, -is, -nda, dan seterusnya
3.
Afiks asing
/ afiks serapan :
a.
Akhiran
daari bahasa sansekerta : -wan, -wati, -man
b.
Akhiran dari
bahasa arab : -i, -wi, -in, -at, -ah
c.
Akhiran dari
bahasa barat : -isme, -tas, -ika,-logi, -is(asi), dsb(kata benda), -al,
-or, -if, -is, -dsb (kata sifat)
4.
Makna
imbuhan :
Makna proses
pengimbuhan /afiksasi snantiasa berhubungan dengan fungsi sematik dari suatu
bentuk kompleks. Hal ini bias ita lihat pada contoh-contoh makna afiksasi
paa beberapa imbuhan berikut ini :
a.
Meng-
Mempunyai
variasi makna sebagai berikut :
1)
Membuat :
menggambar, menyambal
2)
Mmenuju ke :
melaut, menepi
3)
Memberi :
menomori, menandai
4)
Mengeluarkan
:membuih, menyanyi
5)
Berlaku
seperti : merajalela, membabi buta
b.
Ber-
Mempunyai
variasi makna gramatikal :
1)
Dalam
keadaan(statif) : berbahagia, bersedih
2)
Kumpulan :
bertiga, berempat
3)
Mempergunakan
: berbaju, bersepeda
4)
Menjadi :
bertamu, berpisah
c.
Ter-
Mempunyai
variasi makna gramatikal :
1)
Superlative
( paling ) : tercantik, tertinngi
2)
Tdak
sengaja
: tertidur, tertunduk
3)
Dapat
di-
: tercium, tercapai
4)
Hasil
tindakan
: tersebar, terpecah
5)
Peng-
d.
Mempunyai
variasi makna gramatikal :
1)
Orang yang
di-
: petatar, pesuruh
2)
Orang yang
bersifat : pemarah, pemalas
3)
Alat
: pemukul, penggaris
4)
Pelaku
tindakan :
pencopet, penjual
Keterangan
: makna gramatikal dari imbuhan yang lain dapat
dicari/diterka dari konteks kalimatnya.prinsipnya makna gramatikal muncul
karena adanya kaitan kata
5.
Fungsi afiks
:
a.
Prefiks
meng-, dan ber-, berfungsi sebagai pembentuk kata kerja aktif transitif dan
intransitif.
b.
Prefiks ter-
dan di- berfungsi sebagai pembentuk kata kerja pasif dan pembentuk kata sifat.
c.
Prefiks ke-,
berfungsi sebagai pembantuk kata bilangan tingkat dan pembentuk kata bilangan
kumpulan.
d.
Konfiks
ke-an, berfungsi sebagai pembentuk kata benda, pembentuk kata sifat, dan
pembentuk kata kerja pasif.
M. Kata
Ulang
Kata ulang
yaitu kata dasar yang diulang. Dalam hal ini yang diulang bukan morfem
melainkan kata.kita bisa melihat contoh berikut : sepeda-sepeda ,
berasal dari satu kata sepeda. Sebaliknya, kata kupu-kupu bukanlah kata ulang
karena dalam bahasa Indonesia tiak dikenal kupu. Oleh karena itu, bentuk
tersebut bukan merupakan kata ulang.
1.
Prinsip
pengulangan
a.
Selalu
mempunyai dasar yang diulang
b.
Proses
pengulangan tidak mengubah jenis(kelas) kata
c.
Bentuk
dasarnya adalah kata yang lazim (umum) dipakai dalam tindak berbahasa
2.
Macam-macam
kata ulang
a.
Kata ulang
utuh / penuh
Contoh :
rumah-rumah, berasal dari kata dasar rumah
b.
Kata ulang
berimbuhan
Contoh :
diinjak-injak, berasal dari kata dasar injak
c.
Kata ulang
sebagian/parsial berimbuhan
Contoh :
Berpandang-pandangan, berasal dai kata dasar pandang
d.
Kata ulang
dwi purwo
Contoh :
sesama,berasal dari kata dasar sama
e.
Kata ulang
berubah bunyi
Contoh :
sayur-mayur, berasal dari kata dasar sayur
3.
Fungsi kata
ulang
Pada
prinsipnya pengulangan tidak mengubah jenis kata. Artinya bila kaa dasarnya
kata benda akan tetap menjadi kata benda pada kata ulangnya, demikian pula
untuk jenis kata lainnya. Akan ttapi, ada sebagian pengulangan yang mengubah
jenis kata khususnya yang diubah menjadi kata tugas, seperti kata bukan-bukan,
sama-sama, serta-merta, dan sebagainya.
4.
Arti kata
ulang
a.
Banyak tak
tentu
Contoh:
lembu-lembu
Lembu-lembuitu
berebut makanan
b.
Bermacam-macam
Contoh :
sayur-sayuran
Sebaiknya
kita mulai menanam sayur-sayuran
c.
Menyerupai
Contoh:
kuda-kudaan
Anak-anak TK
itu senang bemain kuda-kudaan
d.
Melemahkan
Contoh :
kekanak-kanakan
Walau sudah
20 tahun sifatny masih kekanak-kanakan
e.
Menyatakan
intensitas
Ada tiga
bagian yaitu:
1)
Kualitatif :
kuat-kuat
2)
Kuantitatif
: rumah-rumah
3)
Frekuentatif
: menggeleng-gelengkan
f.
Menyatakan
saling (resiprokal)
Contoh :
salam-salaman
Mereka
salam-salaman saat lebaran
g.
Menyatakan
arti seperti pada bentuk dasarnya
Contoh :
masak-masakan
Ibu membuka
kursus masak-masakan
h.
Menyatakan
perbuatan yang seenaknya
Contoh :
duduk-duduk
Kami
duduk-duduk di serambi depan
i.
Menyatakan
arti paling (superlative)
Contoh : sebesar-besarnya
Buatlah roti
bolu sebesar-besarnya agar bias dicatat alam buku MURI.
j.
Menyatakan
kumpulan
Contoh :
dua-dua
Sikakan anda
membungkus roti itu dua-dua
k.
Menyatakan
walaupun
Contoh :
hujan-hujan
Hujan-hujan,
ia tetap dating.
l.
Menyatakan
selalu
Contoh :
mereka-mereka
Mereka-mereka
yang datang terlambat
N.
Kata majemuk
Kata majemuk
adalah kata yang terbentuk dari dua kata yang berhubungan secara padu dan hasil
penggabungan itu menimbulkan makna baru.
1.
Ciri-ciri
Kata majemuk
memiliki cirri-ciri sebagai berikut :
a.
Gabungan
kata itu menimbulkn makna baru
b.
Gabungan
kata itu tidk dapat dipisahkan
c.
Gabungan
kata itu tidak dapat disisipi unsur lain
d.
Tidak dapat
diganti salah satu unsurnya
e.
Tidak dapat
dipertukarkan etak unsur-unsurnya
2.
Sifat
a.
Kata majemuk
eksosentris
Yaitu kata
majemuk yang antar unsurnya tidak saling menerangkan
Contoh :
laki bini, tua muda, tikar bantal, dan sebagainya
b.
Kata majemuk
endosentris
Yaitu kata
majemuk yang salah satu unsunya menjadi inti sedang unsur lain
menerangkannya.
Contoh : rumah
sakit, panjang tangan, dan sebagainya
Terima kasih sudah membaca Jenis-jenis
kata dalam bahasa Indonesia Semoga bermanfaat bila ada yang membutuhkan
silah kan di Copy Paste......)))))))))
Tidak ada komentar:
Posting Komentar